Mau Gaul? Hati-hati lho....

>> 

Istilah gaul dalam kamus remaja emank jadi bahasan wajib bin fardhu. Frase gaul dalam kehidupan sehari” ga jarang lagi dibahas. Pantes aja ada julukan baju gaul, temen gaul, ustadz gaul sampe ada grup dangdut yang punya nama G4ul. Tentu saja anggotanya berdarah muda. Ga mungkin kan kalo ada grup punya nama itu trus anggotanya seumuran Mbah Maridjan...Hehe..Pokoke ruso!!

Dalam kamus gaul, makna gaul punya 2 makna.
First, gaul untuk orang. Nah, orang yang gaul, punya gambaran sebagai orang yang musti matching kalo diajak ngobrol. Ibarat antivirus, virus library-nya selalu di update. Misal, ngomongin soal si Ariel vokalis peterpan. Pasti nyambung. Si dewi persik yang slalu buat heboh.Wah malah tambah nyambung. Top bgt(ktny). Sampe-sampe jajanan lebaran abis gara-gara asyik ngobrol sambil incip-incip kue. Aduh....kesindir nih.

Kedua, istilah gaul untuk benda. Benda” yang disebut gaul, sebenarnya adalah barang yang udah nyimpang jauh dari fungsi utamanya. Sandal gaul misalnya, ga lagi sebagai alas kaki untuk jalan. Cuma buat gaya doank. Kacamata gaul, ga lagi untuk melindungi mata dari sinar mentari. Justru dipake buat nambah pede.

Nah, kedua makna gaul tadi, baik untuk orang ataupun benda, ga bisa dipisahkan. Mudah ditebak. Ujung-ujungnya, ngebawa gaya hidup alias life style. Orang yang sudah make asesoris gaul, kayaknya ga komplit kalo ga nyatu ama pola hidupnya yang katanya juga gaul. Seperti sayur tanpa kuah, ga seger gitu. Mulai dari caranya ngomong, sampe dandan, semua kalo bisa harus gaul. Tentunya, gaya hidup yang ditawarin bukanlah gaya hidup yang serba biasa n sederhana. Jauh dari itu. Justru gaya hidup serba hedonis dan kapitalis alias menilai segalanya dari uang, jadi rujukan dalam menjalani hidup. Bahkan kalo perlu, harga dirinya pun bisa dijual, asal dapat kekayaan plus keinginan, meski cuma sekedar untuk beli pulsa handphone. Naudzubillahminzallik So, jadilah remaja” kita menjadikan asas manfaat sebagai modal utama dalam interaksi sosial. Terutama cara bergaul dengan rekan-rekannya, baik yang sesama jenis maupun dengan lawan jenisnya. Awas nyetrum....stop kontaknya masih nempel.

Gaul yang Salah Kaprah

Dalam konteks ini, ga heran, tak sedikit booming kemaksiatan di dunia remaja. Atas nama dan latar belakang gaul kek, modern kek, kebebasan kek atau apapun. Ga ada lagi pertimbangan agama di dalamnya. En, ga cukup dirinya yang jadi korban keganasan budaya barat, tapi seringkali temannya juga diikutkan serta. Fenomena gaul yang awalnya hanya sekedar untuk orang yang gampang nyambung dan up to date serta barang-barang nyeleneh buat begadang, jadi bergeser ke arah pandangan hidup dan life style. Malah, sebagian besar memaknai gaul adalah kebebasan, di dalamnya termasuk seks bebas. Walah-walah.

Bahkan, revolusi seks yang dulu mencuat di Amerika Serikat dan Eropa di akhir 1960-an seolah sudah merambah ke sini, apalagi lewat piranti teknologi informasi, dan sarana hiburan yang makin canggih. Hasil riset Synote tahun 2004, ngasih black spot buat pergaulan remaja kita, yang konon udah sampe titik nadir. Riset dilakukan di empat kota yakni Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Dari 450 responden, 44% mengaku berhubungan seks pertama kali pada usia 16-18 tahun. Sebanyak 40% responden melakukan hubungan seks di rumah. Sedangkan 26% melakukannya di tempat kos, dan 20 % lainnya di hotel (gatra.com).

Ciloko tenan, para remaja mungkin aja yang berargumen pantang mundur, nyebut kalo kebebasan seks identik ama pergaulan kehidupan modern. Padahal, menurut seksolog dokter Naek L. Tobing, seks bebas adalah kehidupan primitif. "Seks bebas terjadi sebelum agama lahir," katanya. “Ketika peradaban semakin maju, dan ilmu pengetahuan berkembang, seks bebas ternyata terbukti membawa banyak persoalan. Selain merusak tatanan sosial juga menyebarkan berbagai penyakit gawat.” Lanjutnya. Ga cukup di situ. Akibat bebas gaul, kasus aborsi jadi tren, hanya untuk sekedar menghilangkan malu akibat berbuat mesum, remaji yang hamil mau membunuh babynya tanpa ampun. Dra. Clara Istiwidarum Kriswanto, MA, CPBC, psikolog dari Jagadnita Consulting, menyebutkan beberapa survei yang dilakukan di Jakarta, sekitar 6-20 persen anak SMU dan mahasiswa di Jakarta pernah melakukan hubungan seks pranikah. Kenapa mereka ngelakuin itu? Sebagian besar menjawab, kalo hal itu bagian remaja gaul. Malah, sebanyak 35 persen dari mahasiswa kedokteran di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta sepakat tentang seks pranikah. Malu toh jeng. Nah, dari 405 kehamilan yang tidak direncanakan, 95 persennya dilakukan oleh remaja usia 15-25 tahun. Angka kejadian aborsi di Indonesia mencapai 2,5 juta kasus, 1,5 juta diantaranya dilakukan oleh remaja.
Jadi apa remaja negeri ini?

So sobat, inilah yang terjadi kalo kita udah salah persepsi tentang istilah gaul. Kesalahan itu terus diyakini.N akhirnya dijadiin pegangan hidup.So, mulai sekarang ati-ati deh ambil istilah.Cz, kalo istilah itu ga sesuai ama Islam, haram loh ngambil, nerapin dan nyebarluasin. Sobat, istilah gaul yang salah kaprah udah disiramin ke negeri lumpur Lapindo ini.gimana nih?sprti Istilah-istilah lain untuk remaja seperti funky, jilbab gaul, pacaran, n valentine.

Bentengi Dirimu

Sobat, makin santernya serangan instant culture dari barat, mau ga mau kudu bikin kita waspada. Jangan asal percaya. Apalagi terus ngidrus ngalor ngidul. Allah SWT merintahkan kita untuk merujuk pada sumber asli istilah itu, sehingga kita ga salah langkah. Allah SWT berfirman dalam sebuah kisah di Al Qur’an, “Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu." (QS. Al Kahfi: 70).

Islam kudu dijadikan sandaran untuk menilai segala sesuatunya. Hal ini bisa kita lakukan, kalo kita rajin mengkaji Islam, sering bareng ama anak-anak yang shaleh (ehm...siapa ya?) dan dakwah pada temen” kita. Dengan ini, istilah yang positif buat pikiran dan benak kita akan terjaga. Masuknya istilah-istilah ga bergizi cuma akan buat pikiran kita keruh. Contoh, istilah dugem dan free sex. Boleh aja sih, kita ngerti istilah” itu, cuma tujuannya supaya kita tahu kesalahan dan kerusakannya. Bukan untuk dipahami dan diamalkan. Catet!

Of course, kudu diimbangi ama masuknya istilah positif ke pikiran kita. Kalo kita malas dengerin nasihat dari orang lain soal kiat-kiat belajar, kita akan sulit untuk naikin prestasi di sekolah. Begitu juga kalo kita merasa gerah dan suntuk untuk ngaji, kita ga akan bisa punya pikiran yang sehat dan iman yang kuat…Ingat lho sobat, orang yang punya perilaku buruk adalah cerminan kurangnya masukan informasi dan nasihat yang berguna, dan terlalu banyak mengkonsumsi informasi salah yang merusak pikiran. So, mau gaul? Ati-ati lho.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya”(QS: Al Isra: 36)

Next episode...... Next episode......

Saat-Saat Jatuh Cinta

>> 

Pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Pasti senang dong ya. Enak aja bawaannya. Hidup berasa nikmat banget. Rasanya nggak mantep kalo nggak cerita kepada teman-teman kalo kita sedang jatuh cinta. Biar teman-teman juga merasakan apa yang sedang kita rasakan. Bila perlu, kita cerita kepada siapa saja tentang orang yang sedang kita cintai meski orang yang kita cintai itu tak tahu bahwa dia sedang kita cintai. Kita begitu percaya diri dan mulai mencari cara untuk mendekatinya.
Sobat muda muslim, kenapa kita merasa senang dan bahagia kalo jatuh cinta? Menurut Robert Sternberg, cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan dan sebagainya. Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, apakah dari orangtua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan. (http://e-psikologi.com, pada pembahasan tentang “Cinta”)

Ketika jatuh cinta, kita tiba-tiba merasakan dorongan ingin bertemu dengan orang yang kita cintai. Dorongan itu bahkan sangat kuat menekan kita manakala ada orang yang membicarakan si dia, atau ada orang yang menyebutkan namanya, lebih lucunya ketika membaca tulisan yang kemudian menuliskan sebuah nama yang sama dengan nama orang yang kita cintai. Kita jadi rindu berat ingin bertemu, atau sekadar ingin berkomunikasi dengannya. BTW, ngerasain kayak gini nggak??

Tapi anehnya, seringkali kita juga merasa harus jaim alias jaga imej. Pura-pura jual mahal ketika berkomunikasi atau kebetulan bertemu dengan orang yang kita cintai. Meski rasa ingin mencurahkan perasaan itu begitu kuat menekan. Lucu juga memang. Itu artinya, bahwa jatuh cinta memang unik. Tapi dengan catatan nih, biasanya jika yang jatuh cintanya itu masih malu-malu. Eh, umumnya memang malu-malu kan? Jarang yang agre, gitu deh. Meski ketika jaman sudah berubah kayak sekarang, banyak pula yang agre (baca: agresif) untuk ngungkapin cintanya. Ya, seperti pada reality show, “Katakan Cinta”, “Backstreet”, “Cinlok” de el el.

Sobat muda muslim, ketika jatuh cinta, kita jadi merasa lembut. Baik lisan kita atau saat kita menulis. Kita mulai belajar mengatur pilihan kata saat bicara. Terutama ketika bicara dengan si dia yang telah membuat kita jatuh hati. Itu kita lakukan biasanya untuk mendapat perhatiannya. Untuk memberikan imej bahwa kita baik di hadapannya. Ujungnya, bukan tak mungkin kalo akhirnya kita mendapat simpati darinya. Awalnya memang simpati, siapa tahu lama-kelamaan menumbuhkan empati dan akhirnya jatuh hati. Bukan tak mungkin kan?

Karakter cinta
Jatuh cinta membuat kita merasa harus menumbuhkan perhatian, merasa harus bertanggung jawab, merasa harus hormat di hadapan orang yang kita cintai, dan merasa harus mengetahui segala seluk-beluk tentang dirinya. Erich From, murid kesayangan Sigmund Freud pernah menyampaikan bahwa dalam cinta itu harus ada empat unsur yang perlu dimiliki, yakni:

Pertama, Care (perhatian). Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Termasuk jika kita jatuh cinta dengan mencintai lawan jenis kita, maka segala bentuk perhatian akan kita tunjukkin sama si dia. Kita jadi sering menulis namanya, menyebutkan namanya, mungkin diam-diam mengoleksi fotonya. Apalagi dengan berkembangnya teknologi informasi kita bisa mengintip diary online (blog) dirinya (kalo punya sihh..) yang mungkin saja memajang foto dirinya. Diam-diam kita menjadi secret admirer-nya. Minimal itu. Karena tujuan mulianya adalah mendapat perhatiannya sebagai seorang kekasih.

Kedua, Responsibility (tanggung jawab). Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orangtua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai istrinya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Seorang jejaka atau gadis yang saling jatuh cinta, ia akan berusaha untuk memposisikan bahwa mereka bertanggung jawab terhadap hubungannya. Menjaganya dan merawatnya jangan sampai kebablasan. Mereka yang ngerti ajaran Islam, maka jatuh cinta itu bukan untuk melakukan perbuatan yang dibenci oleh Sang Pemilik Cinta, yakni Allah SWT. Ia akan menjaga pandangannya, perasaan, hatinya, dan juga aktivitasnya agar tak kebablasan. Tapi, cinta bukan lagi tanggung jawab jika sepasang remaja yang dilanda cinta itu mengekspresikannya dengan cara yang membuat mereka dibenci Allah SWT, seperti seks bebas misalnya.

Ketiga, Respect (hormat). Cinta harus melahirkan sikap menerima apa adanya objek yang dicintai, kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki. Tidak bersikap sewenang-wenang dan selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect. Itu sebabnya, seringkali kita mendengar cerita ada orang yang saling jatuh cinta itu meski berbeda etnis, berbeda bahasa, berbeda budaya, bahkan ada yang sampe cinta buta, yakni berbeda agama. Itu karena merasa bahwa cinta akan melahirkan sikap menerima apa adanya. Wah, jika tak ada filter akidah memang akhirnya akan hancur. But, ini kita bicara secara umumnya lho. Bahwa cinta akan melahirkan respect kepada obyek yang kita cintai. Betul nggak?

Keempat, Knowledge (pengetahuan). Cinta harus melahirkan minat untuk memahami seluk beluk objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau pria untuk dijadikan isteri atau suami, maka kita harus berusaha memahami kepribadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan beragamanya. Nggak asal jatuh cinta juga. Eh, kalo kita bicara secara umum pun, sebenarnya ketika jatuh cinta kita bakalan nyari tahu dari obyek yang kita cintai. Nah, tentu standar yang diinginkan dalam pencarian itu tergantung kepribadian orang yang bersangkutan. Ada yang merasa agama tak perlu menjadi pertimbangan, tapi ada pula yang merasa bahwa agama harus menjadi pertimbangan saat jatuh cinta. Kepada siapa kita harus mencintai. Begitu kan? But, intinya secara umum, cinta memang akan melahirkan rasa ingin tahu untuk menyelidiki si dia yang kita cintai, yang telah membuat kita jatuh hati dan jatuh cinta kepadanya. Setuju?

Tetap iffah selama jatuh cinta
Menurut Hamka, “Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan penghargaan, menguatkan hati dalam perjuangan, menempuh onak dan duri penghidupan.”

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ada persoalan besar yang harus diperhatikan oleh orang yang cerdas, yaitu bahwa puncak kesempurnaan, kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang ada dalam hati dan ruh tergantung pada dua hal. Pertama, karena kesempurnaan dan keindahan sesuatu yang dicintai, dalam hal ini hanya ada Allah, karenanya hanya Allah yang paling utama dicintai. Kedua, puncak kesempurnaan cinta itu sendiri, artinya derajat cinta itu yang mencapai puncak kesempurnaan dan kesungguhan. (dalam kitab al-Jawabul Kafi Liman Saala’ Anid Dawaaisy-syafi, edisi terjemah. hlm. 255)

Lebih lanjut Ibnu Qayyim menjelaskan, “Semua orang yang berakal sehat menyadari bahwa kenikmatan dan kelezatan yang diperoleh dari sesuatu yang dicintai, bergantung kepada kekuatan dorongan cintanya. Jika dorongan cintanya sangat kuat, kenikmatan yang diperoleh ketika mendapatkan yang dicintainya tersebut lebih sempurna.”
Mungkin kayak kita lagi haus nih, udah gitu di siang hari dengan terik matahari yang menyengat, maka kita akan semakin haus dan semakin ingin mencari air untuk memenuhi rasa haus kita. Nah, begitu dapetin air, maka nikmatnya bener-bener terasa. Tanya kenapa? (Yee.. jadi malah ngikutin iklan?)

Sobat muda muslim, kita sering mendengar bahwa jatuh cinta dan akhirnya mencintai orang yang kita cintai adalah sebagai anugerah terindah. (Seperti lagunya Fatih-Anyta en Gradasi-Anugrah Yang Terindah.) Mungkin ada benarnya juga. Meski menurut saya itu terlalu didramatisir. Sebab, urusan cinta ini sangat kompleks, sobat. Tidak seperti hitungan matematika yang serba pasti. Tapi yang jelas dan yang paling utama, cinta bagi kita sebagai Muslim, harus sesuai sudut pandang Islam. Bukan yang lain! (Ngikut iklan lagi..)

Guys, setiap perbuatan yang kita lakuin tuh pasti sesuai dengan cara pandang kita terhadap perbuatan tersebut. Lebih luas lagi cara pandang kita tentang hidup. Kalo kita memandang hidup tuh sekadar tumbuh, berkembang, lalu sampai titik tertentu mati (dan nggak ada kehidupan akhirat), maka perbuatan kita pun bakalan ngikutin apa yang kita pahami tentang kehidupan tersebut. Kita bisa bebas berbuat apa saja sesuai keinginan kita, karena kita merasa bahwa hidup cuma di dunia. Kehidupan setelah dunia kita anggap nggak ada. Artinya, kita jadi nggak kenal ada istilah pahala dan dosa.

Sebaliknya, bagi kita yang meyakini bahwa kita berasal dari Allah Swt. yang menciptakan kita semua, maka hidup di dunia juga adalah untuk ibadah kepada-Nya, dan setelah kematian kita akan hidup di alam akhirat sesuai dengan amalan yang kita lakukan di dunia. Kalo banyak amal baik yang kita lakukan, insya Allah balasannya pahala dan di tempatkan di surga. Sebaliknya, kalo lebih banyak atau selama hidup kita maksiat dan nggak sempat bertobat, jelas dosa dan kita ditempatkan di akhirat di tempat yang buruk, yakni neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Nah, dengan sudut pandang terhadap kehidupan yang benar, maka ketika berbuat apapun kita akan menyesuaikan dengan cara pandang kita tentang kehidupan yang benar itu. Termasuk ketika kita jatuh cinta. Jangan mentang-mentang jatuh cinta, lalu mengekspresikan cinta seenak hawa nafsu kita. Nggak dong, Brur. Nggak asal seneng ngeliat enak dipandang mata lalu main tubruk. Nggak banget. Tapi intinya sih, kita bakalan berpikir gimana seharusnya menurut aturan Islam. Bukan berpikir sebagaimana adanya kehidupan yang saat ini dilakoni. Tolong dicatet ye.

Ini penting dan perlu. Sebab, kalo yang berpikirnya “sebagaimana adanya kehidupan”, ya akan berpikir bebas nilai. Misalnya ketika manusia itu dianggap berhak melakukan apa saja dalam kehidupan yang ada sekarang, yakni Kapitalisme-Sekularisme, maka tentu akan berbuat apa saja sesukanya (berzina, minum khamr, konsumsi narkoba, judi, pacaran, dsb de el el.). Karena merasa mereka berhak ngelakuin hal tersebut. Nggak terikat aturan yang benar. Bahaya besar, Bro!

Sementara yang berpikirnya “sebagaimana seharusnya”, maka ia akan nyocokkin dengan aturan yang benar. Karena menganggap kehidupan yang ada ini harus sesuai aturan yang benar, gitu lho. Dan Islamlah yang benar. Bukan yang lain! (Kok ngikut iklan lagi yaa??)

Itu sebabnya, ketika jatuh cinta pun kita harus tetap iffah alias menjaga kehormatan dan kesucian diri. Ibnu Abbas berkata bahwa orang yang jatuh cinta tidak akan masuk surga kecuali ia bersabar dan bersikap iffah karena Allah dan menyimpan cintanya karena Allah. Dan, ini tidak akan terjadi kecuali bila ia mampu menahan perasaannya kepada ma’syuq-nya (kepada orang yang dicintainya), mengutamakan cinta kepada Allah, takut kepadaNya, dan ridha dengan-Nya. Orang seperti ini yang paling berhak mendapat derajat yang disebutkan oleh Allah SWT. dalam al-Quran:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (QS an-Naazi’aat [79]: 40-41)

Kita boleh dan wajar-wajar aja untuk jatuh cinta. Tapi, tetap harus menjaga kehormatan dan kesucian diri. Yakni dengan cara tetap menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai pemandu hidup kita. Kita melakukan perbuatan atas dasar petunjuk dari Allah lewat Al-Qur’an dan petunjuk dari Rasulullah SAW berupa as-Sunnah. Inilah pedoman hidup kita. Oke?? Haruzz donk..!!


Next episode...... Next episode......

The Power of Muslimah

Dari dulu hingga sekarang persoalan wanita, seolah tidak ada habisnya. Kalau kita mengingat sepenggal lirik lagu tempo doeloe, ”Wanita,dijajah pria sejak dulu....” seolah posisi wanita, selalu dinomor duakan setelah pria. Kebudayaan dan adat pun memegang peranan dalam hal ini contohnya saja masalah pendidikan. Kini, kita bisa tersenyum melihat banyak saudara perempuan kita sudah menikmati tingginya bangku pendidikan dan berkiprah di masyarakat sesuai kemampuannya. Dikarenakan perjangan seoarang tokoh Kartini (kalo di Indonesia). Namun dulu, pendidikan untuk wanita disepelekan dengan alasan, ”Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujungnya ke dapur?”

Padahal dalam Islam wanita mempunyai kedududukan yang istimewa. Islam turun justru untuk mengangkat derajat wanita. Zaman dulu perempuan khususnya di kawasan Arab diperlakukan kurang senonoh. Mereka ibarat obyek seks dan budak belian. Seorang pria bisa beristri puluhan, ratusan, dan bahkan kalau mau bisa ribuan. Kalaupun akhirnya turun ayat poligami, An-Nisa ayat 3: ”...maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka, seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” sesungguhnya adalah untuk membatasi jumlah istri.

Dulu di India ada ajaran ‘Manu’ di mana hak-hak wanita ketika meninggal dihapuskan. Ia tidak mendapatkan hak waris dan bahkan dibakar bersama suaminya yang meninggal dalam satu perapian. Dalam ajaran ‘Manu’ bahkan dikatakan, ”Sesungguhnya wabah, penderitaan, kematian, racun, dan neraka adalah lebih baik daripada perempuan.”

Dan dalam ajaran Hammurabi, wanita disejajarkan dengan binatang. Sedangkan di Yunani, lembaga filsafat dan ilmu pengetahuan memandang wanita secara tiranis dan tidak memberinya kedudukan berarti dalam masyarakat, dan dianggap, makhluk yang lebih rendah dibanding lelaki. Aristoteles misalnya berkata, ”Alam tidaklah membekali perempuan dengan persiapan intelektual yang patut dibanggakan. Karena itu pendidikan perempuan harus dibatasi dan diarahkan pada masalah yang berkaitan dengan rumah tangga, keibuan, kepengasuhan, dan lain-lain.”

Dalam agama Yahudi wanita, dianggap sebagai budak, orang tuanya mempunyai hak penuh untuk menjual kehadirannya merupakan laknat bagi semesta, sebab dialah yang menjadi penyebab terusirnya Adam dan Hawa dari surga.

Karenanya Islam datang untuk mengangkat derajat wanita. Islam, menyamakan hak-hak dan kewajiban humanistiknya dengan laki-laki.
Seperti tertuang dalam Al-Quran surat Ali Imran:195: ”Maka Tuhan mereka mengabulkan permohonnya (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan karena sebagian kaum adalah turunan dari sebagian yang lain.”

Wanita adalah makhluk yang luar biasa. Dari perutnya kita keluar di telapak kakinya terletak surga, dan di hatinya terletak kelembutan. Di balik kesuksesan seorang suami, pasti ada istri yang mendukungnya, di balik kesholehan seorang anak, maka ada ibu yang telah mendidiknya. Jadi peran wanita dalam. keluarga masyatakat, dan negara tidak bisa disepelekan.

Wanita dan Perkawinan
Peran wanita dalam pernikahan bukanlah sebagai obyek semata, karena Allah telah menjadikan wanita sebagai pendamping laki-laki, seperti dalam al-Quran surat Ar-Rum:21: ”Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia, menciptakan, untukmu’istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Jadi kedudukan wanita dalam keluarga di pandang sebagai kedudukan tinggi, bahkan hak wanita dan laki-laki seimbang dalam rumah tangga, meski para suami mempunyai satu tingkatan, kelebihan, dari pada istrinya tapi suami-istri saling melengkapi. Jika suami hendak menuntut sesuatu pada istrinya, maka hendaklah ia ingat akan kewajiban pada istrinya, seperti kata Ibnu Abbas ”Aku suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka dia berhias untukku.” Karena Allah yang Maha Tinggi juga berfirman: ”Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” .

Lantas di mana satu tingkatan kelebihan suami dibanding istrinya? Kembali Ibnu Abbas berkata, ”Bahwa derajat (tingkat kelebihan) yang disebutkan Allah ialah pemaafan suami kepada istri terhadap sebagian kewajibannya, mendiamkannya (tidak menuntutnya) dan sebaliknya dia menunaikan semua kewajibannya pada istrinya.”

Jadi tidak dibenarkan sikap sewenang-wenang suami terhadap istri apalagi dengan tindak kekerasan, karena firman Allah, dalam Al-Quran surat An-Nisa:19: ”...Dan bergaullah dengan mereka secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak..” Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap istrinya,.” (HR. Ibnu Majah)

Namun keistimewaan ini jangalah membuat wanita menjadi besar kepala karena Rasulullah SAW juga bersabda, ”Sebaik-baik wanita (istri) ialah yang menyenangkanmu bila engkau memandangnya dan mematuhimu bila engkau perintah, serta menjaga dirinya dan hartamu ketika engkau sedang tidak ada di rumah,”(HR. Ath-Thabrani). ”Seorang wanita belum menunaikan hak Tuhannya sehingga ia menunaikan hak suaminya,.” (HR. Ibnu Majah). Mengurus rumah tangga memang tugas seorang istri, namun suami selayaknya juga membantu seperti yang diketakan oleh Ali Bin Abi Thalib, seperti yang tercantum dalam Fathul Bari dari riwayat Ahmad Ali berkata kepada Fatimah, ”Demi Allah aku selalu menimba air dari sumur hingga dadaku terasa sakit, “‘Fatimah menimpali,”Dan aku, Demi Allah, memutar penggiling hingga kedua tanganku melepuh,.”

Demikian pula soal harta dan nafkah Islam telah menetapkan suamilah sebagai pencari nafkah utama. Suami harus menafkahi istri dan anak-anaknya. Sampai-sampai jika ada suami yang kikir, Rasulullah SAW membolehkan istri mengambil harta suami secukupnya, tanpa sepengetahuannya,. Seperti yang dilakukan oleh Hindun Binti Utbah, istri dari Abu Sofyan yang kikir.

Power sebagai Ibu
Power wanita sebagai ibu memegang peranan yang mulia. Wanita sebagai ibu memikul tanggung.jawab memelihara dan mendidik anak dan tanggung jawab mengatur urusan rumah tangga. Namun suami juga hendaknya menolong untuk kesempurnaan penunaian tanggung jawab itu sehingga, pemeliharaan rasa cinta kasih.

Pendidikan yang sesungguhnya adalah di rumah. Ibu adalah tempat anak pertama kali bertanya tentang suatu hal, ibu bisa menjadi guru, penenang, dan problem solver bagi anak-anaknya.

Begitu besar tanggung jawab seorang ibu atas pemeliharaan anaknya, hingga Rasulullah SAW bersabda: ”Masing-masing kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya... Dan wanita, adalah pemimpin terhadap keluarga rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka...,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebuah artikel yang sangat menarik dan bikin tertarik untuk dibaca oleh banyak kaum muslimah. Yang berhasil mempengaruhi banyak muslimah. Dan sesungguhnya muslimah yang baik menurut saya adalah yang tersebut di artikel ini.


Next episode...... Next episode......

Kalo Ikhwan Nyari 'Gebetan'

Ikhwan nyari gebetan? Gak salah nih? Eit, jangan su’udzon dulu ya. Meski
panggilan ikhwan identik dengan cowok pengajian, mereka juga kan manusia.
Sama seperti cowok laen. Punya rasa punya hati dan nggak punya antivirus
merah jambu. Itu artinya, ikhwan juga bisa kepeleset jatuh hati ama pesona
lawan jenisnya. Terutama pada kalangan cewek pengajian yang biasa dijuluki
akhwat. Soalnya mereka kan beraktivitas pada dunia yang sama. Dunia dakwah
gitu, lho. Wajar dongs!

Bedanya ama cowok laen, cowok pengajian mungkin lebih punya pertimbangan
mateng untuk jatuh cintrong. Ciiee, sori bukan narsis lho. So, nyari gebetan
di sini bukan berarti nyari gandengan yang bisa diajak kencan atau jalan
berduaan. Tapi untuk diajak serius melabuhkan cintanya di jalan yang halal.
Loving you, Merit yuk? Enak..enak..enak..!

Nah, kali ini kita mo ngorek informasi dari temen-temen ikhwan seputar
komentar tentang Liga Champions, eh tentang akhwat idaman mereka. Informasi
berharga nih. Penasaran? Yuk!



Akhwat idaman di mata ikhwan

Ngobrolin soal akhwat nggak bisa lepas dari sikap, karakter, dan aktivitas
dakwahnya yang dengan mudah tercium oleh ikhwan. Ada yang lincah kayak bola
bekel, ada yang rame mirip Nirina Zubir, ada yang aktif banget sampe nggak
terlalu mikirin penampilan yang seadanya, dan lain sebagainya. Pokoknya mah
bervariasi banget deh. Tapi, seperti apa sih akhwat yang disukai ikhwan?

Seorang teman dari negeri jiran, Hadi, via FS (Friendster)-nya ngasih
komentar: “..perempuan yang aku suka adalah sejuk mata memandang dek
terlihat keluhuran akhlaknya menjadi sumber ketenangan jiwa bila hati
bergelora”.

Kalo menurut ‘pengkhianatyangtelahmusnah (pytm)’ dalam YM(Yahoo
Messenger)-nya, “yang jelas ngaji. Masalah pendiem, kalem, jaim, rame itu
mah selera. Rame asyik dibawa ngobrol. Kalem asik kayak punya bidadari yang
bisa diapain. Hahaha…”

Lain lagi pendapat Zubair, mahasiswa ITB (Kimia) 2002, akhwat yang
disukainya adalah yang….”Pandai berkomunikasi dalam bentuk verbal, sehingga
dengan modal dasar ini mudah-mudahan setiap masalah yang ada mampu
dikomunikasikan dan diselesaikan dengan kepala dingin, bahkan jadi modal yg
sangat cukup untuk dakwah”.

Gimana dengan akhwat yang agak agre. Maksute, akhwat yang punya inisiatif
berjuang setengah hidup nyari info tentang ikhwan idamannya. Walau
diam-diam, tapi aktif tanya sana-sini-situ. Mungkin udah ngebet kali ye ama
ikhwan incarannya en takut keburu dicantol ama yang laen. Hehehe….

‘pytm’ dan ‘javanehese2000’ bilang saat chatting, akhwat agre bukan tipe
yang disukainya. Lantaran khawatir timbul fitnah bin gosip yang nggak bisa
dipertanggungjawabkan. Mereka lebih suka yang kalem. Akhwat banget, gitu
lho. Rada pendiem en bisa jaim di tempat umum. Mungkin tipe-tipe akhwat yang
nunggu diajuin proposal ama ikhwan gitu deh. Kayak mo tujuh belasan pake
ngajuin proposal? Hihihi…

Tapi bagi Zubair, akhwat agre adalah tipe kesukaannya. “…karena kalo
orangnya terlalu pendiem, kita nggak tau secara persis keadaan dia kayak
gimana, kalo agresif alias ekspresif kan enak tuh, kalo ada masalah ketahuan
jadi mungkin kita bisa bantu tolong.” Dengan kata lain, doi nggak gitu
nyetel ama akhwat yang kalem, “... soalnya kalo yang kalem susah ditebak isi
hatinya”.

Oh ya, untuk tipe agresif meski nggak umum di kalangan akhwat, bukan berarti
‘cela’ lho. Karena Siti Khadijah pun termasuk yang ‘agresif’ hingga berani
menawarkan diri kepada Muhammad bin Abdullah setelah terpikat oleh sifat dan
karakter beliau.

Oke deh sobat, itu segelintir komentar temen-temen ikhwan tentang tipe
akhwat yang disukainya. Yang pasti, mau yang agre ataupun kalem, semuanya
sama baiknya selama sholehah. Tinggal pandai-pandainya kita aja
mensikapinya. Dan yang nggak kalah pentingnya, akhwat yang bersangkutan suka
juga ama kita. Biar nggak bertepuk sebelah tangan. Huehehe...



FBI= Female Bidikan Ikhwan

Sobat, dari komentar ikhwan-ikhwan yang kena todong STUDIA pas ditanya soal
akhwat idaman, mereka nangkepnya lagi ditanya soal sosok yang bakal jadi
istrinya. Geer banget kan? Tapi wajar aja sih kalo kegeeran, itu kan gejala
normal seorang jomblo. Padahal untuk calon istri, mungkin lebih khusus lagi
kriterianya. Kayak gimana sih?

Menurut Anas, “Tipe yang Anas suka..tipe yang memang benar-benar pantas jadi
istri. Simpel kan? Dia harus bisa jadi benteng pertama dari sisi apapun bagi
anak-anaknya..karena (mungkin) tugas suami adalah mencari nafkah (cenderung
keluar)..”

Kalo pendapat Zubair, “...Sopan, cukup ekspresif, pandai komunikasi, wajah
lumayan cantik, kulitnya putih kalo bisa enn sabar. Bahkan kalo ada sih yang
ilmu keislamannya baik + akhlaknya baik, jadi bisa ngingetin kita kalo
salah...”

Namun kini, kondisi yang meminta kehadiran wanita di dunia kerja tak bisa
dihindari. Ada aja akhwat yang sudah kerja di kantoran, menjadi buruh
pabrik, atau pengen kerja meski udah merit. Gimana dengan akhwat model gini?

Kalo buat pytm, “..pengennyah sih punya istri tuh di rumah ajah. Meski bisa
dongkrak ekonomi dalam negeri, tapi tetep ajah amanah di rumah lebih gede.
Boleh kerja tapi di sekitar rumah. Ga boleh jauh. Trus yang ringan. Jadi
guru TK ato apalah...”

Sobat, sosok FBI alias female bidikan ikhwan sepertinya nggak harus punya
kelebihan secara fisik, status sosial, suku, status pendidikan, atau
dandanan. But, nggak berarti cuek banget, hanya saja bukan prioritas. Itu
aja kok. Nggak lebih.



Syakhsiyahmu yang kumau

Bagi bagi seorang ikhwan, mikir-mikir dulu kalo mau menominasikan lawan
jenis yang cuma punya kelebihan di penampilan fisik sebagai idaman.
Apa pasal?

Pertama, penampilan fisik itu sifatnya sementara. Bakal habis bin pudar
dimakan usia atau bisa rusak karena musibah. Kalo kita matok rasa suka bin
cinta cuma lantaran fisik, siap-siap aja kehilangan keindahan yang memikat
kita itu. Nggak bener-bener cinta tuh kayaknya.

Kedua, lawan jenis yang diidamkan bukan cuma untuk mengisi ruang khayal
semata, jadi bahan gosipan di antara teman, atau buat nemenin ke kondangan.
Lebih dari itu, akhwat idaman berarti seseorang yang ditargetkan untuk
menjadi istri, ibu dari anak-anak, mitra dakwah, sekaligus seorang sahabat
dekat yang mengingatkan kala khilaf dan memompa semangat kita saat dirundung
musibah. Semua peran itu dilahirkan dari pemahaman Islam dan kedewasaan
dalam bersikap pada diri seorang akhwat, bukan dari penampilan fisik. Catet
tuh!

Kondisi ini mengingatkan kita pada sebuah hadits: “Tiga kunci kebahagiaan
seorang laki-laki adalah istri shalilah yang jika dipandang membuatmu
semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga
kehormatanmu, dirinya, dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar
ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih sayang.” (M.
Fauzhil Adhim, ‘Kupinang Engkau dengan Hamdallah’)

Nah sobat, sepertinya kepribadian (syakhsiyah) seorang akhwat yang tercermin
dalam caranya berpikir dan bersikap sesuai aturan Islam layak jadi ukuran
standar bagi kaum Adam untuk memilih istri. Kalo emang bener mo ngebangun
rumah tangga yang sakinah mawahdah, wa rohmah. Tapi bukan berarti kita
ngelarang kamu pake pertimbangan fisik lho. Silahkan aja kalo mo pake
standar ideal: cantik, kaya, sholihah, dan mau ama kita. Tapi kalo kriteria
itu nggak ada, cukup asal mau ama kita, sholihah, kaya dan cantik.
Yeee...itu mah sama aja atuh!

Ups! Maksute relakanlah predikat sholehah dari seorang wanita yang menerima
cinta kita mengalahkan ego kita untuk dapetin yang cantik atau tajir. Yakin
deh, selalu ada inner beauty dan kekayaan yang tak ternilai oleh materi pada
diri seorang wanita sholehah (pengalaman nih ceritanya, huhuy!).

Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian menikahi wanita karena
kecantikannya semata, boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran.
Dan janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaannya semata, boleh jadi
kekayaannya itu akan menyebabkan kesombongan. Tapi nikahilah wanita itu
karena agamanya, sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi
taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita kaya dan cantik yang tidak
taat beragama).” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)



Jangan egois donk!

Allah swt berfirman: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang
keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula),
dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki
yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). ..” (QS an-Nûr [24]:
26)

Dari ayat itu, Allah emang Maha Adil. Dia menjanjikan wanita yang baik untuk
pria yang baik pula. Sebagaimana layaknya Aisyah r.a. menjadi istri Nabi
SAW. Pria yang tidak baik untuk wanita yang tidak baik pula. Itu berarti
kalo pengen dapetin akhwat yang sholehah, kita juga kudu sholeh dong. Jangan
cuma mikirin keinginan diri sendiri. Nggak adil tuh. Mengidamkan akhwat yang
baik tapi kitanya sendiri jeblok. Karena kaum hawa juga berhak mendapatkan
tipe-tipe primus alias pria mushola yang sholeh. Tul nggak sih?

Makanya kita jangan egois. Kita juga punya kewajiban yang sama seperti kaum
Hawa untuk memoles kepribadian dan menghiasinya dengan akhlak Islam. Percaya
deh, syakhsiyah Islam akan membantu kita untuk lebih bijak dalam mensikapi
hidup. Kita jadi punya standar untuk berbuat atau menilai suatu perbuatan.
Termasuk dalam memilih istri. Nggak asal nunjuk. Trus, dimana kita bisa
dapetin syakhsiyah Islamiyah?

Yang pasti, syakhsiyah Islam nggak dijual bebas di pinggiran jalan, klub
malem, pub, atau diskotek. Tapi kita bisa dengan mudah dapetinnya di
forum-forum pengajian. Yup, di tempat pengajian kita diperkenalkan lebih
dalam dengan Islam dan aturan hidupnya yang sempurna dan cocok buat kita.
Ini yang bisa menjadi benih tumbuhnya syakhsiyah Islamiyah. Perlu perawatan
yang rutin dengan getol mengkaji Islam jika kita ingin pertumbuhannya sesuai
dengan yang diharapkan.

Dengan dibubuhi pupuk keikhlasan semata-mata ingin dapetin ridha Allah
(bukan cuma pengen dapet calon istri solihah.. ehm..), syaksiyah Islam akan
mengantarkan kita pada predikat kemuliaan. Di hadapan manusia, dan yang
menciptakan manusia. Bukankah ini yang kita harapkan?

So, jangan tunggu hari esok. Mari kita sama-sama menjadi bagian dari
generasi anak ngaji (Ngaji Generation). Membentuk syakhsiyah pada diri kita
dan menanamkan akhlakul karimah (akhlak yang mulia). Sekaligus memperkuat
barisan perjuangan untuk memuliakan diri kita, Islam, dan kaum Muslimin di
seluruh dunia. Moga-moga Allah masukin kita dalam daftar orang-orang yang
berhak dapetin pasangan hidup yang sholeh/sholehah. Mau dong?? Yuuukk…!!


Next episode...... Next episode......

Jangan Takut Berjilbab

>> 

Takut?? Emangnya uji nyali ye?? Nggak cuma uji nyali aja yang bisa bikin orang takut, berjilbab pun ternyata masih banyak yang pada takut. Mulai dari takut dicemooh, takut nggak bisa bebas beraktivitas, takut gerah, takut sulit dapat pekerjaan hingga takut nggak dapat jodoh. Wasyahh!
Padahal kalo dipiki-piki , jilbab adalah suatu gaya berpakaian yang lagi trend saat ini lho. Emang sih beberapa tahun yang lalu, jarang banget kita nemuin cewek berjilbab. Tapi saat ini hampir di setiap sudut meja, eh, kota banyak muslimah yang sudah mulai sadar untuk berjilbab. Di sekolah-sekolah baik yang berbasis Islam atau pun umum, perguruan tinggi negeri dan swasta, tempat-tempat kursus hingga di pasar, mal, dan pabrik-pabrik, jilbab mulai marak. Bahkan di perkantoran yang dulunya jarang banget didapati busana muslimah ini, kini hampir di setiap kantor bisa dijumpai wanita muslimah yang berjilbab. Tuh kan, keren nggak sih?
Tapi ternyata di balik hingar-bingar cewek berjilbab, itu belum semuanya mau mengenakannya, sobat. Why? Karena banyak di antara mereka yang meskipun mengaku Islam, tapi masih juga enggan untuk berjilbab. Banyak sih alasan klise yang bakal dijadikan senjata andalan. Mulai dari pendapat yang bilang kalo jilbab tuh busana yang nggak gaul, ribet, dan bawaannya gerah mulu, hingga yang paling sering muncul nih, nggak siap. Nggak siap? Wah, macam mana pula ini?
Bahkan ada juga yang mau pake jilbab asal dengan syarat dibeliin mobil sedan keluaran terbaru. Walah! Eh�tapi ini beneran ada lho.
Tapi jangan salah, kita kudu bersyukur juga, karena ternyata masih ada sodara kita yang sudah niat hati sih pingin berjilbab tapi apa daya nggak boleh sama ortu. Dengan alasan kayak anak udik-lah, entar sulit dapat kerjaan-lah, lama dapat jodohnya-lah, de el el. Ortu punya kuasa untuk melarang anaknya berjilbab. Gimana nggak, kalo larangan itu disertai ancaman bakal distop uang SPP dan uang saku, bahkan mungkin juga distop nggak boleh aktif di rohis (tempat dia sadar tentang wajibnya jilbab). Lalu gimana dong cara untuk meyakinkan ortu agar dibolehin pake jilbab?

Jalin komunikasi yang baik
Kalo ortumu adalah orang awam yang belum ngeh terhadap ajaran Islam, jangan ngambek dulu ketika ortu ngelarangmu untuk berjilbab. Namanya juga belum tahu Neng.
Nah, kalo persoalannya karena ortumu belum ngeh dengan Islam, maka seperti kata pepatah, tak kenal maka ta'aruf alias kenalan dulu. Kenali Islam dan aturannya. Tugas kamulah menyampaikan ini dan itu tentang ajaran Islam, khususnya tentang jilbab kepada ortumu. Siap kan? Harus dong ya..
Sebab, kamu udah diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan di sekolah dan mendapat berbagai ilmu, termasuk tentang wajibnya berjilbab. Itu sebabnya, saatnya kamu yang memahamkan ortu tentang masalah ini. Jangan karena nggak boleh berjilbab, terus kamu antipati sama ortu dan dendam lagi. Nggak baik itu, Non.
Sobat muda muslim, ortu melarang pasti ada alasannya dong. Nggak ujug-ujug marah bin nepsong begitu. Jadi, komunikasikan dulu sama ortu. Bila perlu, dan kayaknya sih perlu banget, tanyakan alasan beliau ngelarang kamu berjilbab. Hehehe.. sekadar kamu tahu aja dan coba nyocokkin dengan fakta di lapangan, biasanya sih alasan ortu melarang kita-kita berjilbab yang paling sering muncul adalah ketakutan. Takut kalo kamu sebagai anak perempuannya nanti sulit dapat kerjaan. Pikir mereka, udah disekolahkan mahal-mahal cuma mau jadi Bu Nyai , begitu seringnya anggapan mereka terhadap jilbab.
Ketakutan yang kedua, khawatir anaknya sulit dapat jodoh karena terhalang oleh jilbabnya. Ketiga, ortu malu punya anak berjilbab karena kebetulan pengalaman ortumu nemuin anak berjilbab tuh malu-maluin. Duileee.. sampe segitunya ya?
Kalo alasan pelarangan jilbab sudah diketahui kayak gini, sekarang kewajiban kamu untuk memahamkan ortumu. Bisa dicoba dengan ngejelasin tentang konsep rizki berkaitan dengan pekerjaan, atau pun jodoh yang memang itu semuanya tak ada kaitannya dengan berjilbab or nggaknya seseorang. Sebab, banyak juga tuh mereka yang nggak berjilbab dan berpakaian mini yang keluar masuk kantor melamar kerjaan tapi nggak dapat-dapat (kasihan banget kan?). Sebaliknya banyak juga tuh yang berjilbab karena kemampuan dan prestasinya malah bisa jadi dosen, guru, dokter, insiyur, wartawan, penulis, ahli kimia, dll. Jadi, tulalit banget kalo ngata-ngatain bahwa jilbab penghambat dapat kerjaan.
Begitu juga dengan jodoh. Berapa banyak wanita-wanita seksi yang masih melajang di usia tua padahal mereka tidak berjilbab. Sebaliknya banyak juga muslimah berjilbab yang masih muda usia justru udah mendapatkan jodoh karena ketaatannya pada hukum Allah. Tolong yakinkan ortumu dengan janji Allah bahwa wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, begitu sebaliknya. Sehingga tak ada alasan lagi bagi ortumu untuk melarang berjilbab bila mereka sudah paham. Oya, jelaskan juga bahwa, jilbab adalah kewajiban bagi wanita muslimah yang nilainya seperti wajibnya sholat. Catet itu! Bila perlu ditebelin dan digaris bawah biar inget.
Kalo ada yang reseh?
Mau berbuat baik itu memang nggak mudah, sobat. Pasti ada aja suara-suara miring ketika kamu pertama kali berjilbab. Ada yang nganggep kamu sok alim, nggak modern, primitif, iseng manggil dengan gelar Bu Haji , atau bahkan yang parah adalah mengucilkan kamu dari pergaulan. Terus gimana dong?
Kalo persoalannya mereka yang reseh, berarti masih ada celah untuk menasihati, maka jangan ragu untuk ngasih nasihat kepada mereka. Katakan bahwa dengan berjilbab, akan memperjelas posisi seorang wanita. Kamu bisa jelasin bahwa dengan berjilbab, seorang cewek tuh nggak hanya dinilai dari fisiknya semata (emang pelajaran olahraga pake acara penilaian fisik?), tapi cewek tuh juga punya kemampuan lain yang lebih layak dinilai. Kemampuan otaknya, prestasi belajarnya, keahlian di bidang yang ditekuninya, dan keterampilan dalam bidang yang lain juga yang nggak melulu cuma pamer fisik. Selain tentunya memiliki akhlak yang baik juga dong. Oya, kamu bisa memberikan penekanan khusus bahwa berjilbab adalah kewajiban bagi semua cewek yang mengaku muslimah dan mukminah. Itu sebabnya, berdosa bagi yang nggak mau melaksanakan kewajiban menutup aurat ini.
Sobat muda muslim, kalo ada teman kamu yang nyindir ketika kamu pake jilbab dengan nyebutin kuno dan primitif, kamu bisa bilang ke doi. �Emangnya ada jaman primitif pake baju menutup aurat dan lengkap seperti jilbab? Wong jaman itu belum ditemukan kain, boro-boro menutup aurat.� Betul nggak seh?
Sebaliknya, jelaskan bahwa mereka yang nggak berjilbab dan menutup aurat itulah yang layak mendapat sebutan masih primitif. Gubrak!
Why? Karena banyak cewek yang pake baju yang kurang kain or pake baju adeknya yang masih SD. Gimana nggak, kalo bajunya ukuran kecil kan auratnya jadi bebas terlihat sama siapa pun. Mungkin ada teman kamu yang kemudian beralasan, �ini kan modern�
Nah, inilah alasan yang dibuat-buat. Karena sejatinya ini soal sudut pandang aja. Mungkin bisa dibilang perbedaannya hanyalah karena keprimitifan itu dibungkus dengan slogan yang bernama modern. Padahal intinya mah tetep aja primitif, tul gak?
Jurus terakhir, yah�cuekkin aja lagi. Kalo dalam hal kebaikan kayak gini, EGP aja, Emang Gue Pikirin . Yang penting tuh apa dan gimana hukum Islam memberi aturan dalam segala hal, khususnya berbusana. Kalo kamu pusing dan selalu dengerin orang lain tentang keputusanmu berjilbab, kamu nggak bakalan bisa maju. Yakin deh.
Terus kamunya sendiri juga harus yang bener ketika memutuskan berjilbab. Masa' berjilbab bin menutup aurat tapi kayak lontong. Itu tuh, yang tertutup tapi semua lekuk tubuhmu keliatan, ya percum mah tak bergun, alias percuma tak berguna atuh Neng. Jangan sampe pake jilbab tapi gak ngerti definisi dan nggak paham yang sesuai syari’at itu kayak apa.
Jilbab sesuai syari'at
Kalo dikembalikan lagi ke yang punya bahasa, dalam hal ini bahasa Arab, jilbab adalah kain longgar dan panjang yang menjulur hingga menutup kaki. Bentuknya seperti lorong dan tidak ada potongan di tengahnya, dan menutupi pakaian yang biasa kamu pake sehari-hari di rumah. Wah�nggak modis dong! Modis atau nggaknya tergantung kamu memodifikasinya. Kalo kamu gaul, banyak banget model jilbab yang oke tapi tetep syar'i. Pokoknya inti berjilbab (yakni mengenakan pakaian yang tebel dan longgar, serta panjang sampe menutupi mata kaki) tetep nggak boleh ditinggalkan.
Lho bukannya jilbab itu kain yang sering digunakan untuk menutup rambut? Walah, kamu ternyata kuper en kupeng juga ya? Itu mah namanya khimar, Sayang. Kalo bahasa Indonesianya sih kerudung. Coba kamu buka QS an-Nur: 31. Allah Swt. berfirman: ��Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya��
Nah, khimar atau kerudung ini juga bukan hanya menutup kepala aja, tapi harus sempurna menutup telinga, leher hingga menjulur menutup dada. Jadi nggak ada yang namanya kerudung gaul dengan mengikatkan ujung-ujungnya di belakang leher dan tidak menjulur sampe ke dada. Kalo dada masih belum tertutup, memang disebut berkerudung, tapi itu belum sempurna. Kamu perlu ngeh dong, bahwa busana muslimah itu adalah jilbab dan juga kerudung. Dipake bersamaan kalo keluar rumah or di rumah tapi ada pria asing yang bukan mahram kamu. Oke?
Jaim dong!
Yup, kamu harus jaga imej, alias omongan dan perbuatan kamu kudu mencerminkan jati diri seorang muslimah. Kamu yang dulunya suka ngomong ceplaz-ceploz tanpa peduli perasaan orang lain, sekarang kudu dipikir dan ditata dulu. Kamu yang dulunya suka ketawa ngakak, sekarang mulai belajar untuk lebih sopan. Kamu yang hobi pulang sekolah boncengan sama cowok, yang suka ngerumpi, yang suka jalan-jalan di mal sekadar cuci mata, en so on, maka itu semua kudu dibenahi. Malu dong, berjilbab tapi tetep norak. Bukan kamu aja Non yang bakal kena getahnya dengan sikap-sikap negatif di atas, tapi nama besar jilbab dan Islam bisa ternoda (cie�Rinso �kali).
Berubah memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi juga bukan sesuatu yang mustahil untuk dilaksanakan. Ketika kamu memutuskan untuk berjilbab, pastikan itu semua karena kesadaran dan bukan hanya ikut-ikutan tren dan mode. Kalo hanya sekadar asal ngikut, kena cobaan dikit aja udah lepas tuh jilbab dari tubuhmu. Balik lagi deh jadi cemet alias cewek metal.
Iman itu kan bisa naik bisa turun, jadi kadang naik dan kadang pula turun. (Kayak lagunya nasyid Fatih yang judulnya kadang.) Karena itu kamu kudu cari lingkungan yang mendukung keputusan kamu berjilbab. Apalagi di masa awal yang rentan banget sama godaan. Gabung deh ama temen yang udah baik-baik. Ibaratnya kamu temenan ama orang yang jualan minyak wangi, kamu akan ketularan wanginya. Kalo kamu berteman dengan orang yang baik, maka kamu akan ikutan baik. Pokoknya, akan ada orang yang mengingatkan kamu dalam ketaqwaan.
Apalagi kalo keputusanmu berjilbab diiringi rajin ngaji. Wuih�ditanggung te o pe be ge te, alias top banget. Kamu yang semula merasa nggak siap jadi terdorong untuk segera mengenakan jilbab sesegera mungkin. Cobaan dan rintangan nggak akan menyurutkan keputusanmu tapi semakin mengokohkannya. Ibarat pohon yang akarnya kuat, angin topan sedahsyat apa pun nggak bakal bikin kamu goyah dan bahkan jatuh. Oke deh, semakin mantap untuk berjilbab kan?!! Haruss!! So, berjilbab?? Siapa takut!!


Next episode...... Next episode......

What Do You Think About Beauty ???

Mendengar kata cantik, mungkin dibenak kita langsung membayangkan sosok yang tinggi-langsing, berkulit halus-lembut, dan memiliki wajah seindah purnama. Persis seperti model iklan kosmetika di televisi. Berjuta-juta perempuan dengan wajah pas-pasan iri dan tergoda mencoba kosmetika tersebut. Apalagi narasi iklan sering menggambarkan begitu banyaknya laki-laki tampan tertarik padanya. Secara tak langsung iklan tersebut berkampanye; seperti inilah perempuan idaman laki-laki.

Kebanyakan orang menilai cantik tidaknya perempuan hanya dari fisik semata. Dan beruntunglah mereka yang dianugerahi rupa seindah mutiara. Tapi, bagaimana dengan mereka yang punya jasmani pas-pasan? Betapapun mereka sudah menggunakan kosmetik mahal, sulit menandingi perempuan yang sejak lahir sudah cantik.

Ada cara yang mudah dan murah untuk membuat perempuan cantik, meskipun secara fisik mereka kurang menarik. Yang pertama kali harus dilakukan adalah mendefinisikan kembali makna cantik tersebut. Cantik bukan masalah fisik semata. Kecantikan sejati juga bisa diraih dengan memaknakan kecantikan sebagai berikut:

1. Kecantikan perempuan ada dalam iman taqwanya yang menyejukkan mata kaum laki-laki.
Seorang perempuan yang menghias jasmaninya dengan iman dan taqwa akan memancarkan cahaya surga. Dengan kepatuhannya menjalankan ibadah, ia akan memesona laki-laki. Yang kuasa akan memberikannya kecantikan abadi, magnet alami. Tak perlu kosmetik, parfum atau penampilan berlebih, laki-laki akan tertarik padanya.

2. Kecantikan perempuan ada pada kehangatan sikapnya yang mampu menggetarkan sensifitas dan kecintaan pria.
Secara umum laki-laki memang responsif terhadap perempuan yang bagus fisiknya. Tapi ketertarikan itu tak kekal, bisa membuat laki-laki bosan. Kehangatan kasih sayang dan cinta kasih yang tuluslah yang akan membuat sang pria nyaman berada disisinya. Sulit untuk bisa melupakannya.

3. Kecantikan Perempuan ada pada kelembutan sikapnya.
Kelembutan bukan berarti lembek dan manja. Kelembutan seperti roti. Meskipun sedikit, tapi mengenyangkan. Dari toko roti manapun roti berasal, ia tetap lembut. Jadi perempuan dari suku manapun bisa tetap lembut, pada pasangannya, pada anak-anaknya. Asalkan ia mau berusaha.

4. Kecantikan perempuan berada dalam pandangannya yang teduh dan suaranya yang hangat.
Walau mata tak seindah bintang kejora, setiap perempuan bisa memiliki mata embun. Teduh. Sejuk. Tak gampang emosi. Menyikapi tingkah laku sekitarnya secara bijak. Ia selau berprasangka baik. Perkatannya bukan pisau yang menikam. Perkataannya adalah bara yang menyalakan semangat di dada. Tak ada kata sia-sia yang terucap dari bibirnya. Tapi perlu diingat untuk diperjelas lagi,, kalau mata dan suara seorang itu adalah suatu aurat yang harus dijaga. Banyak laki-laki yang terpesona seorang wanita karena matanya. Oleh karena itu kita disuruh untuk menjaga pandangan. Dan masih banyak pula seorang laki-laki terpesona pada wanita karena suaranya yang merdu dan menghangatkan hati pria tersebut. Jadi bagi kaum hawa, mata dan suara itu adalah suatu aurat yang harus dijaga.

5. Kecantikan perempuan berada dalam senyumannya yang menambah kecantikannya dan membuat gembira hati orang yang melihatnya.
Senyum adalah sedekah. Murah senyum tanpa bermaksud menggoda apalagi berlebihan bisa membuat wajah indah. Meskipun berwajah rupawan, tapi jika malas tersenyum, hanya aura negatif yang akan ditangkap oleh orang-orang di sekitarnya. Tidak akan ada seorang laki-laki menghampirinya.

6. Kecantikan perempuan berada pada intelektualitasnya.
Ukuran intelektual bukan pada gelar sarjananya atau di mana ia pernah menuntut. Banyak ilmu-ilmu yang bisa dipungut dari sekitar, yang membuat si perempuan mejadi cerdas. Kehidupan adalah sekolah yang tak pernah tamat sebelum ajal menjelang. Tak ada sekolah untuk menjadi istri yang baik. Tak ada universitas yang melahirkan ibu yang baik. Ruang dan waktulah yang akan menempa perempuan mejadi istri dan ibu yang baik.

7. Kecantikan perempuan berada pada seberapa jauh pengetahuannya akan tanggung jawabnya terhadap keluarga, rumah, anak-anak , masyarakat dan umat manusia.
Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Seberapa jauh pengetahuan seorang perempuan akan terlihat dari tingkah laku keluarganya. Ia selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya. Mengambil peran penting dalam rangka memperbaiki lingkungan. Lihatlah laki-laki sukses di jagat raya. Dibalik kesuksesannya, pasti ada perempuan tangguh di menemani. Menjadi pendukung nomor satu, tempat kembali saat sang pahlawan lelah berjuang.

8. Kecantikan perempuan berada pada kemampuan dan keinginannya untuk memberi.
Orang bisa miskin harta, tapi ia bisa kaya hati. Selalu memberi, tanpa mengharap imbalan yang berarti. Ia senang ketika orang lain senang. Ia sedih ketika orang lain sedih. Kemurahan hatinya membuat wajahnya bersinar. Membuat ia selalu dirindukan, meskipun sosoknya biasa-biasa saja.

Mungkin masih banyak kecantikan lain yang tercecer. Tapi dengan kecantikan-kecantikan ini, perempuan manapun bisa tampil memikat. Mudah caranya dan murah biayanya.

Satu hal yang paling penting, kecantikan-kecantikan ini sifatnya abadi. Akan dikenang meskipun si perempuan telah tiada. Tidak seperti kecantikan lahiriah yang sementara. Setelah tua, ketika senja menyapa, ia tak menarik lagi. Manakah yang akan Anda pilih? Kecantikan sementara atau kecantikan abadi untuk diri Anda?


Next episode...... Next episode......

Related Websites

Currency Converter

Vistors

Locations of visitors to this page free counters

Blogger Blog Review at Blogged

Shout Box Comment

  © Roshid Theme by scenica.co.cc 2009

TOP  

skater